Is It Caused By Their Circle Or?

Melihat perspektif seseorang yang berubah 180° itu memang bukan suatu hal yang mudah. Apalagi ketika pandangan kita tetap sama seperti perjumpaan sebelumnya. Auranya pun bisa dikatakan totally different ketika dia memutuskan untuk membentuk sebuah self-concept yang mungkin secara nggak disadari terbentuk begitu saja.

Seseorang bisa berubah kapan aja. That’s so natural. Tapi, kalo perubahannya lebih ke orientasi negatif, kita bisa apa? Sebagai seorang temen yang sesungguhnya jadi reminder bagi wrong way to build a mindset yang udah ditanem beberapa tahun terakhir.

Bagiku, 2,5 tahun adalah waktu yang sangat singkat. Hanya masalah menunggu yang terlihat kian panjang. Menunggu waktu untuk bertemu, yang ternyata berujung tandus. Bahkan, kalo ada kerinduan yang amat dalam, bisa lah seketika lenyap akibat perubahan tutur kata atau tingkah laku yang ditampakkan setelah sekian lama nggak ketemu. Terlepas dari kontak dengan social media secara kontinyu tapi nggak intens. Nyatanya, memang social media nggak bisa nampakin secara utuh bagaimana kondisi seseorang, bahkan emoticon juga kadang cuma dibuat hiasan aja kan meskipun bisa sesuai dengan isi hati (sekedar untuk menyenangkan reader atau emang beneran isi hatinya kan kita nggak pernah tahu?)

Entah karena apa, perubahan membawa suatu persoalan baru ketika membentuk presepsi yang buruk, pelabelan yang nggak semestinya diberikan. Menurutku, lingkungan atau lingkarannya include social life yang saat ini dia jalani bisa membawa super huge influences bagi mereka yang memiliki prinsip yang kurang kuat. Meskipun (pernah) ditanam sebuah prinsip biar nggak ikut-ikutan misalnya, peran teman lebih besar mendominasi daripada orang tua, jadi, they should be follow their friends indeed. Petuah orang tua seakan masuk telinga kanan-keluar telinga kiri. Balik ke individunya aja sih, kalo emang dasarnya dia nggak ada niatan buat berubah ya, who knows gitu? Tapi sekarang kenyataannya udah terlalu jelas. Kalo dibilang nunggu hidayah sih, bisa aja dateng, tapi kan setidaknya ada usaha untuk mencari. Mau diubah kayak apa dia, seperti yang kita inginkan atau orang tua inginkan. Kalo dasarnya nggak ada niatan untuk berubah ya.. Wallahu Alam. Cuma bisa bersabar aja, semoga cepet dapet petunjuk terbaik from The One Above doanya.

Chill in Diversity

Sejatinya, ngadepin seseorang seperti itu sih dibuat enjoy aja. Kita emang hidup di tempat yang notabene menghargai keberagaman sosial dan budaya tentunya. Bahkan mindset juga harus ada didalamnya. Nggak cuma suku, ras, dan agama aja ya. Biar gimanapun juga, kuncinya adalah respect. Setiap orang punya pemikiran tersendiri, membuat keputusan untuk kehidupannya yang lebih baik. We don’t have to judge their thought, kan? Kita juga punya pikiran yang pasti nggak enak kalo disalah-salahin sama orang lain, misalkan. Ya memang sebuah perubahan nggak terjadi tanpa sebab, pasti ada perubahan point of view dari setiap manusia dan yang harus kita lakukan ya cuma tadi, menghargai. Udah itu aja, insyaAllah kalo udah ada rasa saling menghargai, everything will get better, kok. Ikhlas, kalo semua perubahan itu datengnya dari Allah, bukan yang lain.

Advertisements

One thought on “Is It Caused By Their Circle Or?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s