Every Phases Has Their Own Way

Menuju kepala dua tentunya merupakan suatu hal yang tak jarang menjadikan tanggung jawab sebagai prioritas yang tak terlewatkan. Kalo dulu masih suka menyepelekan sesuatu demi kesenangan kecil, sekarang harus udah bisa menundanya demi menyelesaikan masalah dengan hati dan pikiran yang tenang. Demi kesenangan yang lebih besar di kemudian hari.

Because we must leave our childhood and taking the new roles as an adult with lots of responsibilities.

Yang dulunya masih suka nggantungin diri ke orang tua, sekarang harus udah mikir gimana kedepannya. Belajar menata hidup dengan baik karena nggak selamanya hidup sama orang tua.

Kalo dulunya masih impulsif dan cuek, dan nggak mikirin side effect dari sikap kita, it’s time to think twice everytime we want to do something. Pikirin dengan bijak setiap akibat yang bakal terjadi dari setiap tindakan kita. Daripada jadi gegabah dan harus nanggung hal yang sebenernya bisa kita hindarin? – GoGirl! Magz Vol. 144

Terkadang kita melakukan sesuatu yang nggak kita sadari bahwa hal itu menyinggung orang lain, padahal sebenernya menurut kita, yang kita lakuin itu bener-bener aja. Nggak ada niat buat menyinggung orang lain. That’s our nature for sure. Yang harus kita lakuin setelah tahu bahwa ternyata ada seseorang yang tersinggung akibat perkataan atau perangai kita adalah… Mengatasi dengan hati yang lapang dan bijaksana. Pada awalnya kita memang nggak rumongso karena udah melakukan hal itu, tapi lama-lama akan tahu juga ketika ada balasan yang sejatinya nggak kita harapkan terjadi.

Kalo dulunya punya mood yang swing (bukan tipe musik jazz ya), labil, dan nggak peduli walaupun dampaknya bisa berefek ke orang lain, things will be different when we entering adulthood. Masa iya sih dari ABG punya mood yang naik-turun, nggak teratur. Harusnya ketika kita udah tahu mana yang baik dan yang buruk tuh lebih bisa mengontrol emosi. Apalagi nanti ketika kita berada di ranah profesional, nggak ada lagi ceritanya buat nurutin mood-mood-an yang turun. Siapa yang mau ngangkat kalo nggak dari kita sendiri yang mau berubah? Mau nunggu orang lain? Sampe kapan? Kalo nggak ada yang mau? Sesungguhnya diri kita sendiri sih yang bisa handle things with logic, nggak melulu menuruti perasaan ataupun hawa nafsu yang mengelabuhi mood kita yang seperti roller coaster.

Lagi-lagi, ada hal yang pasti menjadikan kita making decision. Pada dasarnya, hidup memang tentang memilih, kalo mengutip kata Pak Ridwan Kamil sih begini:

Setiap hari kita mengambil keputusan. Setiap keputusan mempunyai konsekuensi. Konsekuensi yang akhirnya kita sukai atau tidak kita sukai. Keputusan belok ke kiri bukan ke kanan, nerobos lampu merah atau bertahan, nyatain ke gebetan atau mengagumi saja dari kejauhan, melupakan atau diam-diam stalking akun mantan, baso gurih kolesterol atau salad sehat tapi hambar, chelsea islan atau syahrini, mengambil yang bukan haknya atau mawas diri, keputusan menyogok atau ikut regulasi, keputusan berbohong miskin agar dapat fasilitas padahal mampu, keputusan melakukan pungli atau taat aturan. Apapun itu, setiap niat dan tindak kita suatu hari nanti akan dimintai pertanggungjawabannya. Siapa kita adalah akumulasi keputusan kita. Mari saling menasehari dalam kebaikan dan kesabaran.

Entering the adulthood yang totally membutuhkan suatu keputusan yang akan pilih dengan hasil pemikiran kita sendiri, bukan orang lain, even our parents. Karena langkah kita selanjutnya adalah apa yang akan kita jalani, bukan mereka yang menjalani. Memang, membuat keputusan itu bukanlah suatu hal yang mudah, tapi bukan berarti nggak bisa dicoba, kan? Salah satunya adalah belajar dari pengalaman. Karena pengalaman seseorang itu berbeda-beda, maka cara menyikapi suatu masalah pun bisa beragam. Kita bisa sharing sama orang yang berpengalaman dari masalah tertentu, misalnya. Hal itu yang bisa ngebuka wawasan dan cara berpikir kita. Karena dalam mengambil keputusan, nggak cuma ngandelin naluri dan logika, tapi juga harus tegas dan berani mengambil resikonya.

Last but not least, hal yang paling krusial dalam menuju adulthood adalah being independent. Di mulai dari sesuatu hal yang kecil, misalnya makan. Dari kecil kita pasti makan diurusin, dimasakin, bahkan disuapin sama orang tua. Memang itu tanda kasih sayang mereka, tapi mau sampai kapan? Coba deh gantian kita yang masakin buat keluarga kita, ayah-ibu pasti senang kan? 🙂 Mereka bakal mikir, anaknya udah gede ya. Hal kecil itu yang sekiranya bisa mendapatkan empati dari orang tua kita. Mereka akan percaya kepada kita bahwa kita bisa survive di kerasnya kehidupan nanti. Kalo makan harus diatur terus, mereka pasti akan merasa digantungin.

Menjadi dewasa berarti kita punya kesadaran untuk ngelakuin sesuatu sendiri dan nggak lagi mengandalkan orang lain. Dari kecil, aku udah di didik mandiri sama kepala negara di rumah, nggak menggantungkan diri ke orang lain, meskipun ke orang tua. Contoh kasusnya nih, kelas 6 SD aku udah bawa sepeda motor sendiri buat berangkat les bahasa inggris yang jaraknya sekitar empat kiloan dari rumah. Ini antara akut banget mandirinya apa nakal yang berkedok mencerdaskan diri sendiri ya.. Hahaha.  Tapi emang dibolehin sih sama orang tua, padahal SIM aja belum punya, naik motor udah berani kenceng, belum tau haluan :’) Akhirnya pernah juga kecelakaan, setelah itu yaa tetep berani naik motor, nggak ada kapoknya. Dengan begitu, aku bisa belajar dari kesalahan, lebih bisa mengontrol gas ketika berkendara, hehehe. Ada lagi yang membuat aku mikir ketika aku terlalu menggantungkan diri ke orang lain, ayahku langsung negur. Pernah nih, suatu ketika aku akan pergi ke kota kelahiran ayahku, sebelum berangkat, mau naik mobil, aku ingat nggak bawa charger handphone, ngomong lah aku dengan komunikasi intrapersonal alias ngomong sendiri tapi dengan suara yang agak nyaring,

“Yah chargernya ketinggalan, nanti deh pinjem bulik disana”

Ayahku denger, langsung deh kena –

“Ya gitu itu, nggak boleh jagain ke orang lain. Nggak baik. Iya kalo ada charger disana, kalo nggak?”

Ini nih yang bikin anak nomer satunya langsung loncat masuk ke dalam rumah cuma buat ngambil charger handphone yang ketinggalan. Sepele, kan? Tapi ini hal kecil yang membiasakan aku buat lebih cermat dan teliti, lebih menjadi pribadi yang mandiri.

Buat kalian yang juga sedang sliding into adulthood, atau yang udah adult tapi belum menyadari gimana cara bersikap yang baik. Semoga kita bisa survive di tengah kehidupan yang semakin menjadi. Nggak tergilas arus globalisasi, jadi generasi millenial yang cerdas, semakin kritis tapi tetap berada di koridor yang tepat ya. Aamiin

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s