Hati-Hati dengan Hati, Sebuah Perjalanan Hidup

       Last nite, di bawah sinar bulan sabit saya bercerita panjang lebar tentang apa yang terpendam selama 8 tahun terakhir. Berawal dari cerita perjalanan sepanjang hidup mengenai saya, dia, dan kita. Kalian boleh percaya atau tidak, but definitely I write it with all my faith and my deepest heart dan yang terpenting ini adalah fakta. I write it with my responsibility.

       Masih teringat jelas ketika sebelum Idul Adha 8 tahun silam, sekitar tahun 2009. Dia tiba-tiba meminta maaf akan segala kesalahan dan perbuatan yang pernah dia lakukan kepada saya, via SMS. Dan dia mencoba mengajakku untuk berangkat shalat Id di sekolah kami yang notabene berjarak sekitar 7 kilo dari rumahku menggunakan sepeda onthel. Dia menjemputku di gerbang perumahan. Di tengah perjalanan, dia berlagak seperti Valentino Rossi yang mendahuluiku dan ngepot di jalan sambil membuang topinya. Padahal tepat di belakang kami ada truk yang menyalakan klaksonnya dengan kencang. Saya sangat kaget melihat tingkah anehnya kala itu. Mungkin dia sedang cari perhatianku, pikirku. Saya yang saat itu super duper cuek akan hal semacam itu, tetap stay cool sambil pasang headset di ipod sembari berhenti menunggu di depannya, dia mengambil topinya di tengah jalanan yang ramai.

       Ketika saya mendapat permintaan maaf secara mendadak seperti yang ia lakukan, saya langsung berpikir, apa yang terjadi? What’s wrong? Kenapa bisa tiba-tiba dia mengatakan hal itu? Tapi memang, saat itu, saya adalah perempuan yang paling beda dan paling nyeleneh dari yang lain, kata dia. Dan itu yang membuat dia interest terhadapku, ketika dihadapkan perempuan lain dengan penampilan girly nya, saya merupakan tipikal anak yang tomboy-nya nggak karuan. Berani break the rules. Padahal notabene kami berasal dari SD Islam. I love J-Rocks, Amercan Idiot, My Chemical Romance, Green Day etc and so did he. I wore sneakers hitam putih ketika yang lain memakai sepatu pantovel or sporty shoes yang berwarna hitam. He wore a black converse yang mirip dengan boot, entahlah apa itu namanya. Dia yang suka membully-ku dengan kalimat-kalimat yang tidak seharusnya dikatakan oleh anak usia 11 atau 12 tahun kala itu dan melakukan sesuatu bentuk kekerasan fisik terhadapku. Tapi nggak separah yang kalian bayangkan, just like another kids yang sedang berantem tanpa saya membalasnya. I’m sure gimanapun saya mencoba tuk mengelak, dia tetap lebih strong, karena dia lelaki.

IMG_1031

When we were in the Elementary School

       Throwback. Ketika berada di SD, lipatan celana panjang merahnya, menjelaskan karakternya yang suka cari perhatian, dia yang seperti anak nakal kala itu tapi menyisakan angan terhadapku. Ketika setiap harinya selalu ada keusilan luar biasa yang dia lakukan pada saya. Pernah suatu ketika, saya nggak sengaja membawa HP ke sekolah dan ternyata ketahuan oleh ibu guru di Sekolah Dasarku. Dia pun mengerti saat saya diperingatkan. Menuju waktu ashar, saya dan kawan-kawan wajib untuk shalat di masjid sekolah karena notabene kami ada di Sekolah Dasar Islam. Dia dengan segala bentuk ke-tricky-annya menggeledah isi tasku dan memecah belah Hpku, mulai dari baterai dan casingnya, ia lepas dan ia taruh di beberapa tempat berbeda di tasku. Hal bodoh macam apa ini. Saya baru sadar ketika sudah di rumah. Sesampainya di rumah, entah mengapa saya marah sekali karena tau hal itu terjadi, saya yakin pasti ‘dia’ orangnya yang melepaskan Hpku dari casingnya. Nggak ada yang lain yang berani melakukan hal macam itu kepadaku. Tapi entah mengapa, saya masih ingat betul, saya tetap tersenyum di sela kemarahanku. Saya nggak tahu perasaan macam apa itu. Kalau sekarang, saya menyebutnya, sebatas ‘cinta monyet.’

       Bagaimana hal ini tidak membekas sampai usiaku 20 tahun? Dan bagaimana pula dia yang sejahat itu denganku bisa meminta maaf dengan tulusnya? Tapi, nyatanya, saya pernah suka dengannya sebelum dia melakukan segala bentuk tindakan kasarnya terhadapku. Dia yang berparas oriental, seperti Cina-Jawa dengan kulitnya yang putih, dia yang sayang terhadap adik-adik asuhnya di SD kala itu, dia yang sangat menjunjung kebersihan ketika di rumah,  dia yang rajin sekali pergi les bahasa inggris dan menulis poin penting dari pembicaraannya ketika tutor menjelaskan, dia yang sangat mandiri (di usia SD kelas 3 dia sudah berani PP naik bis Mojokerto-Ponorogo, sendirian) dan yang terpenting adalah dia yang shalatnya tekun, kala itu. Nggak perlu nanya bagaimana saya bisa tau semua itu karena saya mengamatinya dalam diam, dan sahabatku sendiri yang notabene adalah sepupunya yang selalu bercerita tentangnya ketika di rumah. Bagaimana saya tidak kagum melihat perangainya? Dan terlebih, saya juga bisa membuktikannya, waktu itu.

       Move ke SMP, dia yang akhirnya melanjutkan sekolahnya di Ponorogo dan saya tetap stay di kota kecil seribu kenangan, Mojokerto. Entah mengapa, saya merasa kehilangan sekali. Meskipun kehadirannya di masa putih merah adalah suatu hal yang sangat membuatku benci terhadapnya. Jujur. Sepertinya saya merasa ada yang beda. Di tempat yang berbeda, nun jauh disana. Mojokerto-Ponorogo. Seperti hal yang tak mungkin di gapai untuk anak SMP. Dan, saya mengambil hikmah. The more I hate, the more I love. Memang, segala bentuk apapun yang berlebihan itu tidak baik dan saya tidak bisa menepisnya. Biarlah rasa itu tersimpan rapat-rapat dan akan terbuka di saat yang tepat. Di kelas 9 SMP, saya dan dia sama-sama menyatakan perasaan. Ternyata dia juga mengagumiku, kala itu. Saya lupa bagaimana tepatnya saat dia bertutur, tapi yang saya ingat, momen itu datang ketika saya study tour ke Jogja (dia tetap di Ponorogo) dan lagi-lagi saya tidak sungguh-sungguh dalam memaknainya. Ada seseorang yang lain yang menghalau jalan kami. Teman SMP yang sudah menutupi perasaanku terhadap ‘cinta monyet’ku. Sesaat.

       Waktu berlalu begitu pesat, menginjak kelas 11 SMA. Ada suatu momen ketika stres dan depresi hebat melandaku. Pasti kalian bertanya, karena apa? Masa iya? Ah, saya nggak percaya? Mungkin nggak sih? Bagaimana bisa orang seriang dan sebahagia kamu bisa depresi? Bagaimana ceritanya orang seaktif kamu (kala itu) di berbagai macam organisasi di sekolah, komunitas, band dan lainnya bisa terkena hal semacam ini? Ya. Hal ini sudah terjadi. Semua bisa terjadi atas kehendakNya. Dan saat itu, saya sama sekali tidak kuat untuk membuka mata lebar-lebar karena pikiranku terlalu kacau balau akan banyak hal, dan kalian tahu, siapa nama yang tiba-tiba saya sebut dalam mata tertutupku dan genggaman erat tanganku? Adalah dia, dia yang memiliki sejuta kenangan pahit dan manis denganku. Sampai-sampai, datang kakekku malam itu juga dari Kediri ke UGD di salah satu Rumah Sakit Islam di Mojokerto. Dia mencoba melepaskan genggamanku dengan sekuat tenaga tapi tetap tak bisa. Sebelum saya di bawa ke Rumah Sakit, ayah mencoba meruqyah saya ke temannya yang notabene saya juga kenal, saya menolak secara halus dan sekuat mungkin ketika di beri air zamzam karena saya merasa bukan karena jin atau makhlus halus apapun yang membuatku seperti ini. Justru ayah bilang ke orang lain, di saat saya tak mampu membuka mata kalau iman islamku lebih kuat darinya. Meskipun saya tak kuasa membuka mata dan mengucap selain namanya, saya tetap bisa mendengar dengan baik.

       Orang tua, teman-teman dekat, keluarga besar bingung semua. Kejadian itu berlangsung ketika saya pulang dari LDKS OSIS-MPK di suatu Villa di pegunungan, Trawas. Orangtuaku langsung berpikiran tidak-tidak melihatku kondisiku seperti ini, banyak dari mereka yang bilang ketempelan makhluk haluslah, kenapa-lah karena tingkah anehku, begitu sampai mereka mengusahakan untuk menyembuhkanku dengan berbagai cara. Padahal jujur, saya tau bahwa itu karena under pressure yang luar biasa, karena saya nggak bisa mengutarakan isi hatiku. Isi hati yang terdalam. Saya nggak pernah cerita ke siapapun karena nggak ada yang tepat untuk di ajak bercerita kecuali dengan Yang di Atas. Dan saat itu terjadi, semua terkuak. Bukan hanya masalah dengan ‘dia’ tapi juga organisasi (ada beberapa orang yang menjatuhkan mentalku begitu hebat dan membuat saya bisa bangkit lagi, dan jadi seperti inilah saya sekarang), band dan bahkan intern keluarga yang membuat orang pemikir macam saya langsung luluh lantak. Saya melambaikan bendera putih. Obat-obat penenang seperti morfin, heroin dan semacamnya pernah menjadi makananku saat itu, bukan untuk disalahgunakan ya. Hanya agar saya bisa tenang dan nggak ngomong ngelantur.

       Dan, datang suatu masa.. Bebanku hilang seketika dan pikiranku sangat plong ketika ‘dia’ dengan kesibukannya menjadi siswa dan juga ketua seni di SMA terfavorit di Ponorogo datang ke Mojokerto. Sangat, sangat dan sangat unpredictable. Ternyata keluargaku di Ponorogo mencari alamatnya dan akhirnya bertemu dengan keluarganya, dan dengannya juga. Sebelum dia datang, saya mengungkapkan kalau saya begitu menyayanginya via SMS, karena mungkin kehebatan rasa benci yang berubah menjadi cinta. Believe me, it’s true. Sebelum saya tau bahwa dia akan datang. Dia terheran-heran dan berkata, “kamu nggak biasa ngomong selugas ini. Ada apa? Inbox sama sent message udah kamu hapus semua kan?” Yang menandakan bahwa dia ingin mendengarkan cerita panjang lebar dan bagaimana saya bisa berkata selugas itu. Ini di luar kendaliku. Meskipun kami sebaya, dia sudah mature dan dewasa dalam berpikir. Lalu, nggak lama kemudian dia SMS, “Fi, besok jam 5 sore saya kesana. Simpan SMS ini baik-baik. Saya pengen dengar ceritamu” kurang lebih seperti itu. Maha Besar Allah, saya langsung tercekat membaca SMSnya kala itu.

       Dia datang, saat itu, saya merasa semua bebanku lepas. Karena beberapa hari sebelum dia datang, teman-teman sekolahku, teman organisasi, teman bandku berdatangan sembari memberiku semangat dan bapak kepala negaraku menganjurkan untuk tidak membahas mengenai kesibukan yang saya lewati sebelumnya dan segala hiruk pikuknya. Saya sangat beruntung dan bersyukur memiliki ayah yang sangat bijak dan mengerti terhadapku. Beliau bilang sebelum ‘dia’ datang, “kamu habis ini ada surprise lho”, dengan ekspresi bahagia. Dan saya menjawab, “sure I knew it”. Yaitu, ketika ‘dia’ akan datang.

haha

Me and my best friend

 

       Waktu bahagiaku kala itu, dengan 4 sahabatku dari SD berkumpul, ditambah dengan ‘dia’. Betapa senangnya hatiku ketika kita berkumpul bersama karena sudah sangat lama tak bersua. Malam dengan sinar bulan purnama kala itu cukup membuat hati damai dengan lantunan lagu Nothing’s Gonna Change My Love For You-nya George Benson yang diputar volume kencang oleh tetangga depan rumah dan Saat Bahagia-nya Ungu ft. Andien yang dia play ketika dia memainkan playlist lagu di HPku. Kami berbincang di kursi panjang di teras rumahku. Bercerita bagaimana hal ini bisa terjadi, hal yang ada di luar logika manusia, di luar nalar manusia. Dan, saya pun tak tau mengapa hal semacam ini bisa terjadi. Kami sama-sama bernostalgia dari semasa SD hingga SMA. Saya yang lebih banyak bercerita dan dia mendengarkan. Saat itu, I love the way he listened me.

       Keesokan harinya, ‘dia’ mengajakku buat berkunjung ke SD kami, bertemu guru-guru. Tapi orangtua nggak memperbolehkan saya keluar rumah dengan alasan belum sembuh total. Takut terjadi apa-apa denganku. Padahal saya sudah meyakinkan, I’m okay. Tapi tetap saja, orang tua lebih tau yang terbaik untuk anaknya. Saat itu saya ingin sekali silaturahmi ke SD dengannya, bernostalgia bersama, tapi Allah tidak mengizinkan kami. Saya mencoba ikhlas. Setelah itu, dia memberi pesan singkat padaku, ganti memberikanku dongeng sepulangnya dari SD, via SMS. Saya tanya, “kenapa nggak sekalian ketemu aja? Mumpung masih di kota yang sama.” Dia bilang, “karena kita harus terbiasa jauh”, dia setelah ini akan balik ke Ponorogo dan memberi pesan yang sangat panjang dengan hal yang luar biasa bijaksana mengingat usianya yang cukup muda kala itu. Saya yakin itu memang bersumber dari pikirannya sendiri karena saya tau dia seperti apa. “Fi, Mojokerto-Ponorogo kan jauh.. saya nggak pengen kamu terlalu serius dengan perasaanmu. Aku masih 16 tahun, masih harus belajar tanggung jawab, dll. Kita jalani seperti remaja pada umumnya. Kita lihat dulu 5 cm di depan kita, jangan yang 5 km dulu ya.” Garis besarnya seperti itu. Siapa yang tidak mengira bahwa kata-kata semacam itu seperti tanda dari sebuah pengharapan besar meskipun kami tidak terikat apa-apa. 5 km nya begitu berarti buatku. Memang, tak ada perjanjian apa-apa di dalamnya, namun saya terlalu berharap akan penolakan secara halusnya saat itu. Apalagi di kala setelah sakit psikis yang datang menghampiri, logika belum bisa sepenuhnya merapat di otak, hanya perasaan yang tersisa. Baiklah, ketika itu saya tetap berpikir positif. I’m totally believe in God and him. Saya percaya, ketika ada hal seaneh ini, Allah menunjukkan tanda-tanda kebesaranNya. Saya berpikir, dia adalah jodohku. Singkatnya begitu. Manusia boleh berencana dan memiliki mimpi, tapi Allah tetap punya kuasa untuk berkehendak.

       Namun beberapa saat, dia pacaran dengan teman se-SMA-nya. Siapa yang tidak sakit hati? Siapa yang tidak kecewa? Ya. Lebih tepatnya kecewa karena perasaan yang saya buat sendiri. Saya memang tetap bisa bergaul sana-sini tanpa memperlihatkan kekecewaanku yang mendalam karena saya tipikal ekstrovert, perasaan sakit hati, marahku, dan hal-hal yang tak terungkapkan lainnya masih terbenam. Entah kapan terungkap.

       Hari-hari begitu kelam menyelimuti hati. Organisasi tetap berjalan, event-event tetap dilaksanakan. Tapi sebenarnya apa maunya hati ini? Pikiran selalu melayang entah kemana beberapa tahun terakhir. Sering melamun, sering menghembuskan nafas dengan kencang tanda ada sesuatu yang dipendam dalam hati yang tak terungkapkan.

       Sampai suatu ketika, kami sudah menginjak di bangku kuliah. Perasaan itu tetap ada. Hanyut dalam hati yang terdalam. Saya mencoba melupakan, but surely I can’t. Seberapa dekat saya dengan orang-orang yang mendekatiku. It didn’t work. Hasilnya, nihil. Nol besar. Saya selalu dan selalu teringat tentangnya. Bayangnya selalu menghantui. Ya Allah, perasaan macam apa ini. Sampai-sampai saya sangat kesal dengan diriku yang seperti ini. Saat kuliah, dia sudah putus dengan kekasihnya. Saya hanya berpikir, tuhkan benar, Allah tau yang terbaik untuk hambaNya. Saya terus berprasangka baik kepadaNya. Tetap yakin bahwa kami akan bersama suatu hari nanti. Dia yang bisa mengerti mimpi-mimpiku, menjadi apa saya suatu hari nanti, memberi semangat, dukungan, mengajarkanku tentang berbagai pelajaran hidup dan melakukan tindakan positif lainnya. Bagaimana bisa saya tidak kagum dengan makhluk-Mu yang seperti dia ya Rabb? Apalagi keluarga besarku telah mengenalnya.

       Tahun berganti tahun, di awal 2017. Tepat di bulan januari, dia datang. Dia membuat pengakuan akan perjalanan hidupnya selama ini. Bukan pengakuan dalam menyatakan perasaannya ya. Hanya menceritakan apa yang terjadi beberapa tahun belakangan setelah kejadian 4 tahun yang lalu. Saya diam mendengarkan, sesekali menyela tak setuju atau memberi anggukan kepala mengapa dia begini begitu. Ya. Dia yang tipikal future oriented like me bercerita apa harapan kedepannya. Entah saat itu saya berpikir, dengan siapapun dia nanti bersanding, denganku atau orang lain yang akupun tak tahu. Hanya Allah yang bisa memberi petunjuk tentang semua ini. Pengharapan besar yang saat itu bersemayam sempat pudar karena melihat perubahan mindsetnya yang begitu signifikan dan itu mengarah ke segi negatif, dalam penilaianku. Mungkin karena lingkungan barunya di Bandung. Saya rasa begitu.

       Nggak lama kemudian, 6 bulan berlalu. Saya bertemu dengan seseorang yang pernah singgah sesaat di kota kelahiranku. Tak pernah ku sangka sebelumnya, ternyata dia #2 tetep sama seperti yang dulu. His kindness and all of the positive vibes. Dan dia basically sama seperti saya. Beberapa orang bilang kita mirip. Lama-lama saya juga merasa kalo kita sepemikiran sama dalam banyak hal, memiliki karakter yang hampir sama, same personality dengan beberapa perbedaan yang membuat kita bisa saling mentolerir, saling menghargai dan saling memahami. Dan dia datang seperti jawaban dari segala doa yang saya semogakan. insyaAllah. Setelah 7 tahun berlalu, sempat dia belok, tapi entah mengapa setelah bertemu denganku beberapa waktu lalu, dia menunjukkan banyak positive vibes dan kembali menuju jalan yang lurus. Saya nggak pernah sekalipun menyuruhnya untuk merubah apapun darinya secara langsung, hanya lewat doa dan sesekali memberi sindiran halus agar dia juga mikir. Tapi tetap, selebihnya hanya Allah yang memberi kuasa. Dan ternyata, doaku di dengar saat itu juga. Allah menjawabnya begitu cepat.

       Dan pada akhirnya, the day has come.. we’re planning to the next level. Bismillah tawakkaltu alallah..

       Betapa bahagianya kami saat itu, sampai pada akhirnya ada keraguan kecil bersemayam di hati kecilku. Tiba-tiba saya ingat dia #1 yang pernah singgah selama 8 tahun terakhir. Karena saat itu, saya mendatangi workshop dan seminar internasional di Universitas Muhammadiyah Ponorogo. Dan univ tersebut berseberangan dengan SMA-nya dia. Kalau kalian tau, penginapanku sangat dekat dengan rumahnya. Akhirnya saya memberi kabar padanya bahwa saya ada di Ponorogo saat itu. Ternyata kami selipan, tanggal 20 saya berangkat dari Malang-Ponorogo, dia berangkat dari Ponorogo-Jogja, tanggal 24 saya balik Ponorogo-Malang, dia balik kuliah Jogja-Bandung. Saya percaya Allah akan memberikan yang terbaik. Bagaimana saya tidak langsung recall jika menemui hal semacam ini? Dan saya nggak bisa menepis semua ini, saya harus bisa menyelesaikannya dengan baik sebelum saya melangkah maju ke depan. Tidak ingin menyakiti siapapun. Saya harus bisa mengikhlaskannya, tekadku.

       Tepat 2 hari sebelum Idul Adha di tahun 2017, saya tiba-tiba meminta maaf ke dia. Dia bingung dan mencoba menerka-nerka dan menerjemahkan dengan pikirannya, ini aneh, ini menyeramkan, ini bla bla bla, katanya. “Awas sakit lagi lho,” tambahnya. Sure, I won’t. InsyaAllah saya udah kuat karena udah pernah mengalami hal semacam itu.

       Dan hari itu tiba, tepat tadi malam, saya harus menyelesaikan apa yang harus diselesaikan karena akan ada hati dan batin yang terluka di belahan bumi yang lain jika hal ini terus berlanjut. Mojokerto-Bandung begitu jauh untuk di gapai. Kemarin, ketika saya memutuskan untuk menulis pesan di chat LINE untuk meminta maaf akan hal yang tidak seharusnya diberi maaf karena katanya, “You didn’t even do a fault”, katanya. But sure, menurutku karma goes around. Sepertinya saya yang kena karma atas ketulusannya dia meminta maaf kala itu. Teman sepermainan saat di Sekolah Dasar. Saya jadi recall semua yang ada di 8 tahun terakhir. Kami berbicara di telepon kurang lebih satu jam. Saya meluapkan segala kesedihan dan emosi yang terdalam dan terpendam selama ini. Dia diam mendengarkan tanpa berkata-kata. Sesekali saya terseguk karena menangis dan dia tetap dalam khidmatnya, berpikir serta merangkai kata.

EXT. Taman bermain Griya Japan Raya. Di sebuah ayunan, di malam yang gelap sunyi, di bawah sinar bulan.

       Saya bercerita, perjalanan hidupku dengan rasaku padanya mulai dari SD, SMP, SMA, bahkan sampai kuliah semester 5 ini. I have the strongest feeling to him. Entah mengapa, ketika setelah saya ‘selesai’ dengan seseorang yang sebelumnya dekat denganku, saya selalu teringat dia. And definitely I hate that situation indeed karena sepertinya saya menunggu dalam ketidakpastian dan dia sebelumnya tidak tahu menahu akan hal itu. Dan, dengan karakter bijaksana dan agak slenge’an, dia menjawab dengan penuh kepastian that he didn’t have the complicated and deep feeling like this to me. He just ever admire me cause I’m different than others. Alhamdulillah.. and now, we’re just being a bestfriend.

       Setelah saya bercerita panjang lebar, saya mulai merasa lega. Alhamdulillah. Dengan begini, saya siap melangkah menuju level selanjutnya dengan pilihan terbaik yang telah Allah siapkan di depan mata. Insya Allah.

Mojokerto,

31 Agustus 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s