Heaven On Earth In Indonesia

IMG_6242
When the sun goes down

          Kalo mendengar kalimat seperti pada judul, tempat apa yang terlintas di benakmu? Kamu pasti tidak jarang menjumpai foreigner yang tidak mengenal Indonesia, tapi lebih mengenal tempat yang satu ini. Bahkan mereka bilang bahwa Indonesia adalah bagian dari tempat yang akan saya bahas kali ini. Oh My Goodness! Tempat apakah kira-kira yang mampu membuat Indonesia ter-nomor-duakan?

             Ya, kamu benar! Pulau kecil pada peta yang berbentuk seperti ayam itu bernama Bali. Dengan segala keindahannya, Bali mampu membius sebagian besar penduduk di muka bumi ini. Alamnya yang luar biasa kaya akan keanekaragaman hayati. Penduduk asli yang masih mempertahankan kultur dengan sangat kokoh, meskipun kita tahu bahwa so many foreigners yang masuk membawa kebudayaannya masing-masing. Kini, Bali seakan menjadi ikon dunia untuk berlibur. Siapa yang tidak tahu taglineEveryday Is A Holiday”? Tagline ini mencirikan Bali sebagai pusat dimana setiap harinya kita akan merasa seperti liburan tiada habisnya. Karena apa? Di sana, destinasi wisata itu sangaaat banyak dan kita tidak mungkin bisa menghabiskan seluruh destinasinya dalam waktu singkat. Mungkin kalo ada the traveller atau seorang akademisi yang berniat untuk riset –berapa waktu yang dibutuhkan untuk menjelajah seluruh destinasi yang ada di Pulau Bali- akan menjadi hal yang sangat menarik. Memang butuh biaya yang tidak sedikit, but it could be so amazing.

         Melihat surga di dunia melalui Bali dan seisinya. Menyambut keindahan alamNya yang hakiki, mempelajari kebudayaan secara mendalam, mengkaji suatu perbedaan pola pikir masyarakat Indonesia dengan foreigner, belajar beradaptasi di tengah perbedaan dan menjadi seorang yang minoritas (in religion way as a moeslem) merupakan suatu alternatif agar kita bisa senantiasa bersyukur terhadap nikmat dan karunia yang telah Ia berikan. Bahwa ketika kita hidup di ranah yang mayoritas muslim misalnya, kita berada di comfort zone, masjid bertebaran, shalat Idul Fitri bisa di masjid terdekat, lapangan, balai kota maupun tempat lainnya, puasa juga terasa mudah karena banyak temannya. Namun, ketika berada di ranah minoritas, seperti di Bali, kita harus bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan. Bagaimana caranya untuk survive dan istilah lainnya istiqamah di jalanNya. Dan di Bali, kita akan belajar tentang yang namanya toleransi atau saling menghargai. Sikap ini lah yang harus di junjung tinggi. Tidak hanya persoalan agama, namun juga dalam seluruh aspek kehidupan. Memang, dimana pun toleransi harus diterapkan. Namun, apakah ketika kita berada dalam lingkungan yang tidak begitu beragam bisa terasa nyata? Saya rasa tidak. Justru ketika kita menjadi seorang minoritas di kalangan mayoritas, disitulah peran toleransi akan semakin riil.


       Beberapa waktu lalu, saya pergi ke Bali bersama teman-teman saya dalam waktu yang sangat singkat. Hanya dua hari setengah. Saya tidak mau menghabiskan waktu di hotel dengan bermager-mager ria dengan waktu yang terbatas tersebut. Alhasil, tepat di malam hari, sesampainya di Bali, saya langsung memutuskan untuk menghubungi salah satu partner saya yang sudah lama tinggal disana. Ya, kami berjalan menyusuri jalanan di daerah Denpasar dengan riang. Mulai dari sunset road, legian street, sepanjang pantai Kute, dll. Dia menceritakan bagaimana perilaku foreigner disini, seperti yang kita tahu bahwa kebudayaan di luar negeri yang totally different dengan masyarakat kita. Saya sebagai awam mendengarkan dengan khidmat sembari melakukan pengamatan terhadap apa yang terjadi pada saat itu. Di malam hari, ketika melewati Legian Street, there were too many night clubs dengan bule-bule yang menari serta membawa botol champagne di pinggir jalan. Kalo di Jawa ada hal yang semacam itu pasti sudah di obrak ya, hehehe. Nah, disinilah kita mulai melihat adanya perbedaan kultur. Meskipun di Bali adatnya sangat kuat, namun arus globalisasi yang masuk tidak tertahankan. Apalagi Bali sebagai pulau yang sangat terbuka dengan adanya pelancong internasional yang tidak dibatasi jumlahnya. Bahkan menurut data yang didapatkan oleh liputan6.com, Bali merupakan salah satu penghasil devisa negara terbesar, sebanyak Rp 70T pada tahun 2016. How amazing! Dengan berbagai destinasi yang wonderful ini lah yang menyedot arus wisatawan mancanegara untuk datang, tidak hanya sekedar berwisata, namun banyak sekali dari mereka yang akhirnya betah di Bali dan memutuskan untuk tinggal di sana. How can? Bukannya WNA tidak bisa ya memiliki tanah di Indonesia? Ya, sebagian dari mereka memilih untuk menikah dengan WNI agar bisa tinggal di Bali. Banyak dari mereka yang tinggal di sana dengan berbisnis, mengelola cafe ataukah restaurant. As we know, bisnis kuliner di sana sangat dahsyat. Travel and culinary adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. Perkembangan destinasi wisata yang sangat pesat pasti bersanding dengan adanya food and beverage.


       Kembali ke perjalanan saya.. Pada keesokan harinya, saya dan teman-teman mulai menyusuri destinasi yang dekat dengan daerah Denpasar. Rencananya kami menyewa sepeda motor di daerah Seminyak. Sekitar pukul 10 pagi, kami berangkat dari hotel tempat kami bermalam. Menggunakan jasa Grab menuju Seminyak Street untuk mencari persewaan motor. Eh, sesampainya disana, ketika kita sudah memutar otak dan tenaga, ternyata harga sewanya sangat mahal. Kenapa begitu? Karena target pasar mereka adalah para bule-bule. Harga sewa motor sehari dipatok sebesar Rp150.000,-/24 jam. Terima kasih banyak ya bapak, tidak usah repot-repot :’) kami pelancong domestik akan mencari harga yang lebih murah saja. Kebetulan kami sengaja tidak menyewa motor yang ada di hotel karena berniat mencari yang lebih murah di Seminyak tadi, tapi nyatanya…zonk. Alhasil, kami memutuskan untuk kembali ke hotel dan menyewa motor. Ternyata dengan Rp70.000,- kami bisa membawa sepeda motor matic dengan tenang. Kenapa tidak dari tadi saja ya. Kalo saya ambil hikmahnya, kami bisa berjalan menyusuri Seminyak dengan melihat pertokoan dan cafe yang di usung dengan konsepnya yang unik dan menarik. Sembari menunggu Grab yang luar biasa menyita waktu karena di daerah Seminyak sangat padat pada saat itu.

Tahu tidak mengapa larangan membuang sampah pada tempatnya di pohon dekat ice cream shop hanya menggunakan bahasa indonesia, tidak dengan bahasa inggris? Kan di Bali ranahnya internasional, harusnya billingual dong paling tidak? Hal tersebut menandakan bahwa kesadaran masyarakat Indonesia masih sangat kurang terhadap kebersihan lingkungan, khususnya untuk membuang sampah pada tempatnya.

       Setelah mendapatkan motor sewaan, kami memutuskan untuk berkunjung ke Double Six beach dengan nyasar-nyasar terlebih dahulu. Saya bukan navigator yang baik, baca GPS memang tidak semudah yang dibayangkan :’) hehehe. Sesampainya di Double Six pukul 14.00 WITA rasanya super panas. Hawa pantainya luar biasa. Bagi bule mungkin itulah waktu yang tepat untuk tanning dan melakukan sejumlah aktivitas seperti belajar surfing, etc. But for me, terima kasih saya ucapkan karena saya tropical people yang mempunyai kulit yang mudah gosong jika berada di bawah terik matahari terlalu lama. Saya memutuskan untuk duduk santai di cafe yang rindang di daerah pantai.

               Double Six Beach

         Setelah menghabiskan waktu di Double Six, kami menuju La Plancha Beach untuk menikmati sunset yang sangat menawan. Pantai yang mengusung tema warna-warni ini sangat eye-catching.

Menikmati sore di La Plancha Beach, samping Double Six

Meet the cutest gal in town

Nah, inilah sunset yang dinantikan..

#NowPlaying Lembayung Bali – Saras Dewi

Unforgettable sunset I’ve ever seen

IMG_6267
Menjelang malam

       The second day as the last day, kami pindah dari Atanaya Hotel ke POP! Hotel yang berlokasi di daerah Kuta. Hanya untuk menitipkan tas ke teman kami yang lain yang baru datang di Bali karena kami sudah check out dari Atanaya Hotel. Setelah menaruh barang bawaan, kami yang akan membeli buah tangan di Joger menemukan pak polisi yang sedang melakukan pemeriksaan kendaraan bermotor. Dan ternyata, motor yang kami sewa tidak ada stnk-nya. Kesalahan kami, tidak memastikan sebelum berangkat apakah sudah lengkap surat berkendaranya. Untung pak polisinya baik hati, kami diloloskan. Alhamdulillah wa syukurillah. Tapi memang sepertinya itu pemeriksaan khusus bule-bule yang terkadang berkendara tanpa driving license. Apapun itu, yang pasti kami sudah terbebas dari nestapa.

       Setelah puas berbelanja, kami berjalan menuju jalanan di Kuta, sembari menghabiskan waktu sebelum pulang. Kami memutuskan untuk beristirahat dan mengisi perut di KFC KutaBex seberang pantai Kuta. Sebetulnya saya masih ingin berjalan di tepi pantai sembari menikmati angin sepoi-sepoinya, tetapi saya rasa teman saya sudah terlalu lelah untuk berjalan. Baiklah, alhasil kami hanya mengobrol disana sembari menunggu waktu untuk kembali ke kampung halaman.

       Waktu semakin cepat, jam 8 malam kami flight, jam 7 baru berangkat dari Kuta. Sungguh luar biasa buru-burunya. Saya pikir masih jam 6 karena matahari masih begitu terang seperti masih sore, ternyata sudah pukul 7. Alhamdulillah dengan waktu yang minim itu, kami tidak tertinggal oleh kapal terbang yang kami tumpangi.


Begitulah kisah perjalanan dan sari kehidupan yang saya dapatkan selama di Bali. Meskipun waktunya sangat singkat, namun sangat banyak pelajaran yang saya peroleh. Then again, I’m so grateful to meet one of my best supporter ever in music. Hehehe. See ya really soon, Bali!

Berikut adalah hasil jepretan saya ketika berada di pulau yang sangat indah ini:

Rooftop di Atanaya Hotel by Century Park, Sunset Road

Sampai hotel di sambut menu spesial

When in Atanaya Hotel

 

Thanks for reading, semoga bermanfaat 🙂

Any kind of comment? Just drop it below. Or, if you wanna ask me anything? Just text me on my contact in the right side of this blog. Have a great day!

Advertisements

One thought on “Heaven On Earth In Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.