Berprasangka Baik dengan Masa Depan

Such a happy life

Manusia boleh berencana. Tapi tak seorangpun bisa menyalahkan atau menghentikan kita untuk thinking for the bright future. Berharap semuanya akan berjalan baik-baik saja dan sesuai dengan keinginan hati atau pikiran. Namun, apakah semua itu sejalan dengan kuasaNya?

If you submitted your dream to Allah and if you’re willing to do your part, Allah is going to show up and do what you can’t do on your own. – Annonymous

***

       Suatu waktu, pernah saya berpikir dan merencanakan sesuatu. Tentang hal constraint yang semuanya saya lihat berdasarkan apa yang ada di kehidupan kebanyakan orang pada umumnya. Jangan dulu berbicara soal khusus. Hanya Allah yang bisa mengaturnya.

Apakah semua itu bisa terjadi sesuai dengan kehendak kita apabila Allah telah menggariskan sesuatu yang lain? Kita, manusia tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi di depan mata. Sekeras apapun kita merencanakan dan menginginkan sesuatu, jika memang harus terlepas, akan terlepas juga. Sekeras apapun kita menghindari hal yang tidak kita inginkan terjadi, tapi menurut Allah baik, maka terjadilah. Semoga senantiasa berada dalam lindunganNya.

***

       Lulus kuliah, kerja selama dua tahun, lalu serius memikirkan soal masa depan. Cliché things that everybody was thinking about. Sebagian orang memiliki life target dan itu adalah target saya at the first. Ya, tidak ada batasan untuk berimajinasi. Kita tahu, definisi masa depan bagi setiap orang berbeda. Bagi saya adalah waktu dimana kita merajut suatu hubungan khusus dengan berbagai pertimbangan yang ada di depan mata. Berpikir dengan bijaksana mengenai apa misi hidup bersama kedepannya. Terlepas dari soal pekerjaan yang tak habis dikejar masa. Belajar mengambil keputusan yang lebih berat untuk life-crisis di kemudian hari. Mungkin sekitar empat tahun lagi, memberi ruang untuk merajut kasih. Awalnya pun saya pikir begitu. Berpacu dengan kuantitas, bukan kualitas ‘karena memang, seperti yang kita ketahui bahwa masa depan belum terlihat, hanya bisa berdoa dan berusaha agar selalu diberikan yang terbaik di waktu yang telah ditentukan’. Semua orang pasti menginginkannya. Yang mereka katakan adalah waktu untuk ‘berkeluarga’. But, no need to worry, it would be happen ketika timing itu datang. Every phase has their own way. Allah tentu melihat kesiapan kita, lahir dan batin, jiwa dan raga.

Mungkin kebanyakan anak di usia saya belum atau bahkan tidak ada dalam benaknya untuk berpikir sedemikian rupa. Yang ada, sebagian masih senang pergi kesana-kemari, menghabiskan duit orang tua atau positifnya adalah mengikuti organisasi atau komunitas, menjadi seorang aktivis, bekerja sebagai part-timer, magang dan semacamnya.

Kembali lagi, jangankan berbicara soal angka. Sebetulnya, apakah kemampuan diri dan kemantapan hati perlu dipertanyakan? Apakah perlu kesiapan jika Allah telah memberikan peluang yang lebih besar? Diberikan hadiah yang mengejutkan diluar ekspektasi hambaNya dengan perbedaan yang dialami kebanyakan orang? Jauh diluar logika. Pasti ada pro dan kontra ketika hal itu terjadi. Sekiranya manusia mampu menimbang-nimbang yang ada dalam benaknya. Mungkin tidak akan siap jika kita tak memiliki keyakinan penuh. Tapi, Allah tidak akan memberikan sesuatu diluar batas kemampuan kita, hanya itu yang harus kita pegang.

Allah memang membolak-balikkan hati hambaNya. Masalahnya hanya ada di kita, apakah kita bisa tetap istiqamah di jalanNya? Begitu banyak aral melintang yang menghadang di depan mata. Masalah-masalah muncul berdatangan ketika kita jauh dariNya. Pergolakan batin yang mungkin tak banyak orang yang tahu. Mengingatkan kita, bahwa dalam hidup, kita tidak boleh bergantung dengan manusia. Apapun itu. Jika orientasi kita terlalu duniawi, maka tak jarang, banyak orang yang stres ketika masalah bertubi-tubi datang menghampiri. Yes or yes? Ya, begitulah hidup. Sekalipun terlihat seperti mudah dijalani, namun pasti ada kerumitan didalamnya ketika seorang hamba tidak dekat dengan Sang Pencipta. Tidak banyak orang menyadari ketika hidayah itu datang menghampiri, karena hidayah tidak sampai jika di logika. Hanya kepercayaan yang perlu diperankan.

Bagi sebagian orang, semua hal dinilai berdasarkan logika, padahal tidak semua dapat dijelaskan dengan logika atau bahkan kata-kata. Sometimes, jika kita aware terhadap tanda-tanda kecil yang Allah berikan kepada kita, kita bisa mengambil asumsi, jika kita percaya. Percaya atau tidak, hati nurani pasti bergerak ketika ada sesuatu yang mengganjal. Sekalipun ada orang yang melakukan pembenaran keras terhadap dirinya, jika tidak sesuai dengan apa yang ada dalam hatinya, Allah tentu akan menunjukkan mana yang benar. Entah kita sadari atau tidak. Allah menganugerahkan hati untuk menuntun kita menuju kebaikan ataupun sebaliknya. Itu pilihan masing-masing. Begitupula denganmu. Semoga apa yang baik selalu didekatkan dan yang buruk segera dijauhkan agar hidup kita senantiasa berada dalam kebahagiaan yang hakiki.. Aamiin 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s