Paris Van Java: See You Again!

Berangkat dari sebuah tekad dan nekat. Seorang diri, saya berkelana menuju sebuah kota nun jauh di sana. Jurusnya yaitu dengan the power of kepepet.

        Berbekal ridho orang tua. To be alone is okay.

Bandung, 3 Februari 2018

14,5 jam perjalanan di kereta merupakan waktu yang lumayan panjang. Adalah kedua kalinya setelah sembilan tahun berlalu. Bersama ayah, saat itu. Ke Bandung untuk kali pertama.

Sesampainya di Bandung, saya di sambut dengan sahabat kecilku. Namanya Ocha. Bukan teh hijau jepang ya. Kami menuju rumah kost menggunakan GO-CAR, bercakap dengan sopir yang berasal dari Klaten namun juga pernah tinggal beberapa waktu di Mojokerto, kota dimana kami bersekolah bersama. Saya menikmati perjalanan malam di Kota Bandung.

Nasi goreng baso sapi jadi menu pertama yang saya makan setelah perjalanan panjang.

“Jangan kaget ya kalau di Bandung nasi gorengnya pake kecap dan warnanya nggak merah kayak di sana. Jadinya manis banget,” jelas Ocha.

Di malam yang dingin itu, Ocha pesan cap cay. Setelah memesan makanan, kami belok ke warung susu jahe andalannya.

Sepanjang malam kami bercerita tentang apapun yang ingin diceritakan.

Malam pun berlalu begitu singkat. Tak terasa, jam di layar ponsel hampir menunjukkan pukul 3 pagi.

Bandung, 4 Februari 2018

Di hari Minggu, bundaran Telkom University selalu ramai pengunjung. Ada pasar kaget. Kami memutuskan untuk berjalan menyusurinya. Membeli sayur mayur, bacil (baso cilok), sate telur, dan bubur ayam komplit. Sebetulnya ingin mencicipi batagor dan jajanan lain khas sana, tapi saya tidak terlalu tergiur, saat itu.

Siangnya, kami menyewa motor dan berwisata ke Farm House Lembang. Jalan kesana pake nyasar-nyasar dulu, berlawanan arah dengan tujuan kami sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama. Itung-itung tau Bandung daerah situ lah yaa. (Lupa nama daerahnya hehe, mungkin kalau lewat lagi sepertinya baru ingat). Butuh waktu tiga jam berjalan ke berbagai spot di Farm House, yang penting kami senang hehehe. Sebetulnya, di Lembang banyak sekali destinasi yang ingin saya kunjungi, namun waktunya yang sangat singkat membuat saya berencana tuk kembali lagi di lain kesempatan 🙂

Setelah mengunjungi Farm House, kami kulineran ke Surabi Enhai Setia Budi. Mantap sekali. Saya jadi ingat Surabi Imut di Malang. Hampir sama, namun di Malang porsinya lebih kecil.

Saya rasa, Bandung tidak jauh berbeda dengan Malang. Cuaca dinginnya memang menang di Bandung. Wisatanya di Malang juga tidak kalah dengan Bandung. Ketika Malang punya Batu, Bandung punya Lembang.

Kenyang makan surabi, kami berjalan ke Cihampelas Walk. Reminiscing that moment, lima tahun yang lalu saya pernah kesana dengan teman-teman SMA. Bedanya, sekarang ada  Bandung Sky Walk. Ketika keliling Ciwalk, kelaparan melanda, kami memutuskan untuk berjalan menuju Bandung Sky Walk, barangkali ada makanan yang pas. Ternyata kami tidak menemukannya. Mungkin belum jodoh :’) Akhirnya kami merapat ke tempat makan seafood yang memiliki view Jembatan Pasopati. What a nice scenery! Lampu-lampunya sangat indah saat malam.

_MG_3003

Cihampelas Walk at night

_MG_3038

Warna-warni Jembatan Pasopati

Bandung, 5 Februari 2018

Hari itu Ocha magang. Alhasil saya sendirian di kost. Berencana untuk berkelana menyusuri Jl. Asia Afrika, Alun-Alun Bandung dan juga Jl. Braga seorang diri. Tapi untuk mengumpulkan niat masih setengah-setengah. Eh nggak lama kemudian hujan deras. Baiklah, semakin magerlah saya untuk keluar kost. Alhamdulillah nggak lama setelah hujan reda, ada teman saya yang menculik saya, anak ilkom Telkom University. Alhasil, berangkatlah saya ke Telkom dan diajaknya berkeliling ke mantan calon kampus saya. FYI, dulu saya hampir berkuliah disana, sudah lolos jalur undangan, namun dengan berbagai pertimbangan, saya mengurungkan niat saya. Padahal nih ya, saya sudah bertekad dan menuliskan bahwa saya siap lahir dan batin, awalnya. Tapi, apa yang terjadi? Allah memang membolak-balikkan hati setiap manusia. Semoga tetap berada dalam lindunganNya.

Sorenya, Farah mengajak saya berjalan di Braga. Kami parkir di depan Warung Bu Kris yang menyuguhkan alunan musik yang merdu. Sempat menengok ke toko kamera di seberang jalan untuk menanyakan apakah menjual chemical cuci cetak foto film hitam putih, tapi tidak ada.

Belum puas berjalan di Braga, hujan tiba. Kami merapat ke Warung Lima Rasa dengan interior dominan biru-putih yang bagus. Feeling blue tidak selalu dikonotasikan sebagai sebuah kesedihan. Namun juga soal warna. Saya memesan dory crispy sambal matah dan juga hot matcha. Ketika disana, saya sangat menikmatinya.

Setelah dari Warung Lima Rasa, kami menuju Chinatown yang berada di Jl. Klenteng, daerah Pecinan. Beraneka ragam barang unik dan antik terpajang. Makanan khas China juga tersaji. Nuansa Chinanya sangat kental, interiornya dapet banget, tapi band-nya melantunkan lagu-lagu yang kurang Chinese kalau kata saya, salah satunya adalah Berharap Tak Berpisah-nya Reza Artamevia. Oh ya, padahal pakaian staf disana juga China banget, tapi sayang mereka berkomunikasi dengan bahasa Sunda. Hehehe. But, it’s okay! Tetap melestarikan budaya yang ada.

Malam semakin larut. Anginnya kencang sekali dan dinginnya Kota Bandung semakin menjadi. Cardigan tipis yang menempel seakan tak membendung pekatnya malam itu. Alhasil sampai kostan saya muntah-muntah karena terkena enter wind alias masuk angin.

Bandung, 6 Februari 2018

Hari itu, seharian saya tepar, padahal esok hari harus balik pukul 05.35 menggunakan kereta yang berdurasi 14,5 jam (lagi). Apakah saya kuat melewatinya… badan lemas, mulai demam akibat angin malam dan hujan yang mengguyur. Siang menjelang sore, saya memaksakan diri untuk membeli oleh-oleh di Pasar Baru. Ocha memesan GO-CAR. Di mobil kami tertidur. Saya tidur karena lemas, Ocha tidur mungkin karena lelah. Hawanya seperti itu.

Setelah berbelanja, Ocha mengajak saya mencicipi Mie Kocok. Enak sekali! Sayang perut saya kurang berkompromi sehingga tidak terlalu bergairah untuk makan banyak.

Malamnya hujan deras menghadang. Sebetulnya ada adik dan kakak kelas SMA serta sepupu saya yang ingin mengajak saya untuk bertemu, tapi karena saya sakit dan kebetulan saat itu sedang hujan deras, batallah kami untuk bertemu. Akhirnya, saya dan Ocha habiskan malam di kost dengan bercerita panjang kali lebar kali tinggi.

Bandung, 7 Februari 2018

Hari dimana saya akan kembali pulang. Pagi itu tiket kereta saya hangus dan memang sengaja di bumi hanguskan. Badan saya kurang berkompromi untuk pulang menggunakan kereta Pasundan dengan durasi 14,5 jam. Alhamdulillah, there was someone out there who sent me an airplane ticket by the air. I’m so thankful for having the one who missed me so much. Hingga saya tetap stay di bumi parahyangan hingga senja tiba.

Rabu itu, kebetulan sepupu saya sedang free kuliah dan ingin bertemu. Diajaklah saya keliling ke tempat yang belum sempat saya datangi kemarin. Terima kasih banyak sudah mengajak saya Museum Konferensi Asia Afrika, nonton video dokumenter disana bareng anak-anak SD yang lagi studi museum. Berasa selundupan :’) hehehe. Setelah itu kami melipir ke Pasar Cikapundung untuk membeli chemical yang saya cari dan alhamdulillah ketemu. Lelah berjalan, saya yang belum sarapan sejak pagi memutuskan untuk makan terlebih dahulu. Menu soto tetap menjadi andalanku, soto bandung yang sangat maknyus. Kenyang, kami berjalan lagi ke Alun-Alun Bandung dan menikmati shalat di Masjid Agung.

Sebelum ke bandara, saya membeli titipan oleh-oleh yang sempat terlupakan. Peyeum! Oh ya, parkir mobil di Pasar Baru super full, padahal bukan week end. Biaya valetnya Rp 20.000,- dan kami mendapatkan pemandangan yang indah. Bandung on top! Yeay!

Masih ada waktu tiga jam sebelum flight, tetapi saya sudah sampai di bandara. Daripada terburu-buru, mending sejak awal sudah stand by disana kan? Ya, ini kali pertama saya terbang sendiri. Berlibur di atas awan, memandang senja di luar jendela itu. Melihat sisi sayap kanan dengan lautan kapas di langit. All I can do is saying Alhamdulillah.

Terima kasih semuanya, didekatkan dengan orang-orang yang baik adalah anugerah terindah yang saya miliki. Semoga berada di lingkungan yang selalu mengingatkan hamba kepadaMu ya Rabb, berkahMu sungguh luar biasa 🙂 terima kasih atas liburan singkat penuh makna di awal tahun 2018 ini. Semoga hari-hari indah akan menyapa di kemudian hari. Aamiin aamiin ya Rabbal alamiin..

Advertisements

2 thoughts on “Paris Van Java: See You Again!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s